PUSKESMAS
Definisi
dan Fungsi Puskesmas
a. Definisi
Puskesmas (Ilham Akhsanu Ridlo, 2008)
“Suatu unit organisasi yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan yang
berada di garda terdepan dan mempunyai misi sebagai pusat pengembangan
pelayanan kesehatan, yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat di suatu wilayah kerja tertentu yang
telah ditentukan secara mandiri dalam menentukan kegiatan pelayanan namun tidak
mencakup aspek pembiayaan”.
Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang letaknya berada paling
dekat ditengah-tengah masyarakat dan mudah dijangkau dibandingkan dengan unit
pelayanan kesehatan lainya (Rumah Sakit Swasta maupun Negeri). Fungsi Puskesmas
adalah mengembangkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh seiring dengan
misinya. Pelayanan kesehatan tersebut harus bersifat menyeluruh atau yang
disebut dengan Comprehensive Health Care Service yang meliputi aspek
promotive, preventif, curative, dan rehabilitatif. Prioritas yang harus dikembangkan
oleh Puskesmas harus diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan dasar (basic
health care services) yang lebih mengedepankan upaya promosi dan pencegahan
(public health service).
Seiring dengan semangat otonomi daerah, maka Puskesmas dituntut untuk mandiri
dalam menentukan kegiatan pelayanannya yang akan dilaksanakan. Tetapi
pembiayaannya tetap didukung oleh pemerintah. Sebagai organisasi pelayanan
mandiri, kewenangan yang dimiliki Puskesmas juga meliputi : kewenangan
merencanakan kegiatan sesuai masalah kesehatan di wilayahnya, kewenangan
menentukan kegiatan yang termasuk public goods atau private goods serta
kewenangan menentukan target kegiatan sesuai kondisi geografi Puskesmas. Jumlah
kegiatan pokok Puskesmas diserahkan pada tiap Puskesmas sesuai kebutuhan
masyarakat dan kemampuan sumber daya yang dimiliki, namun Puskesmas tetap
melaksanakan kegiatan pelayanan dasar yang menjadi kesepakatan nasional.
Jadi, yang harus diketahui adalah bahwa peran Puskesmas adalah sebagai
ujung tombak dalam mewujudkan kesehatan nasional secara komprehensif, tidak
sebatas aspek kuratif dan rehabilitatif saja seperti di Rumah Sakit.
LEVEL
PELAYANAN KESEHATAN
b. Fungsi Puskesmas (Ilham
Akhsanu Ridlo, 2008)
1. Sebagai Pusat Pembangunan Kesehatan
Masyarakat di wilayah kerjanya.
2. Membina peran serta masyarakat di
wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan
kemampuan untuk hidup sehat
2. Memberikan
pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat
di wilayah kerjanya.
Proses
dalam melaksanakan fungsinya, dilaksanakan dengan cara:
a. Merangsang
masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam
rangka
menolong dirinya sendiri.
b. Memberikan
petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan
menggunakan
sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien.
c. Memberikan
bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis
maupun
rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak
menimbulkan ketergantungan.
d. Memberikan pelayanan kesehatan langsung
kepada masyarakat.
e. Bekerja sama dengan sektor-sektor yang
bersangkutan dalam melaksanakan
program
Penyelenggaraan
Pelayanan Kesehatan oleh Puskesmas
Visi dan misi Puskesmas di Indonesia
merujuk pada program Indonesia Sehat 2010. Hal ini dapat kita lihat pula dalam
SPM (Standar Pelayanan Minimal). Standar Pelayanan Minimal adalah suatu standar
dengan batas-batas tertentu untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan
wajib daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat yang
mencakup : jenis pelayanan, indikator, dan nilai (benchmark). Pelaksanaan Urusan
Wajib dan Standar Pelayanan Minimal (UW-SPM) diatur dalam Surat Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1457/MENKES/SK/X/2003 dibedakan atas : UW-SPM yang wajib
diselenggarakan oleh seluruh kabupaten-kota di seluruh Indonesia dan UW-SPM spesifik
yang hanya diselenggarakan oleh kabupaten-kota tertentu sesuai keadaan
setempat. UW-SPM wajib meliputi penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar,
penyelenggaraan perbaikan gizi masyarakat, penyelenggaraan pemberantasan
penyakit menular, penyelenggaraan promosi kesehatan, dll. Sedangkan UW-SPM
spesifik meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan dan pemberantasan
penyakit malaria, dll. Hal ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standard
Pelayanan Minimal.
RANCANGAN KEWENANGAN WAJIB DAN STANDARD PELAYANAN MINIMAL
|
Kewenangan Wajib
|
Jenis Pelayanan
|
|
1. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Dasar
|
ð Pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir
ð Pelayanan kesehatan bayi dan anak pra sekolah
ð Pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja
ð Pelayanan kesehatan usia subur
ð Pelayanan kesehatan usia lanjut
ð Pelayanan imunisasi
ð Pelayanan kesehatan jiwa masyarakat
ð Pelayanan pengobatan / perawatan
|
|
2. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang
|
ð Pelayanan kesehatan dengan 4 kompetensi dasar (kebidanan, bedah,
penyakit dalam, anak)
ð Pelayanan kesehatan darurat
ð Pelayanan laboratorium kesehatan yang mendukung upaya kesehatan
perorangan dan kesehatan masyarakat
ð Penyediaan pembiayaan dan jaminan kesehatan
|
|
3. Penyelenggaraan pemberantasan penyakit menular
|
ð Penyelenggaraan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan
Kejadian Luar Biasa (KLB)
ð Pencegahan dan pemberantasan penyakit polio
ð Pencegahan dan pemberantasan penyakit TB paru
ð Pencegahan dan pemberantasan penyakit malaria
ð Pencegahan dan pemberantasan penyakit kusta
ð Pencegahan dan pemberantasan penyakit ISPA
ð Pencegahan dan pemberantasan penyakit HIV-AIDS
ð Pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD
ð Pencegahan dan pemberantasan penyakit diare
ð Pencegahan dan pemberantasan penyakit fliariasis
|
|
4. Penyelenggaraan perbaikan gizi masyarakat
|
ð Pemantauan pertumbuhan balita
ð Pemberian suplemen gizi
ð Pelayanan gizi
ð Penyuluhan gizi seimbang
ð Penyelenggaraan kewaspadaan gizi
|
|
5. Penyelenggaraan promosi kesehatan
|
ð Penyuluhan prilaku sehat
ð Penyuluhan pemberdayaan masyarakat dalam upaya kesehatan
|
|
6. Penyelenggaraan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar
|
ð Pemeliharaan kualitas lingkungan fisik, kimia, biologi
ð Pengendalian vektor
ð Pelayanan hygiene sanitasi di tempat umum
|
|
7. Pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkotika,
psikotropika dan zat adiktif lain
|
ð Penyuluhan P3 NAPZA (Pencegahan dan Penanggulangan
Penyalahgunaan NAPZA) yang berbasis masyarakat
|
|
8. Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian dan pengamanan sediaan
farmasi, alat kesehatan serta makanan dan minuman
|
ð Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan
kesehatan dasar
ð Penyediaan dan pemerataan pelayanan kefarmasian di saranan
pelayanan kesehatan
ð Pelayanan pengamanan farmasi alat kesehatan
|
Program Pokok Puskesmas
Kegiatan
pokok Puskesmas dilaksanakan sesuai kemampuan tenaga maupun fasilitasnya,
karenanya kegiatan pokok di setiap Puskesmas dapat berbeda-beda. Namun demikian
kegiatan pokok Puskesmas yang lazim dan seharusnya dilaksanakan adalah sebagai
berikut :
1.
Kesejahteraan ibu dan Anak ( KIA )
2.
Keluarga Berencana
3.
Usaha Peningkatan Gizi
4.
Kesehatan Lingkungan
5.
Pemberantasan Penyakit Menular
6.
Upaya Pengobatan termasuk Pelayanan Darurat Kecelakaan
7.
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
8.
Usaha Kesehatan Sekolah
9.
Kesehatan Olah Raga
10.
Perawatan Kesehatan Masyarakat
11.
Usaha Kesehatan Kerja
12.
Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut
13.
Usaha Kesehatan Jiwa
14.
Kesehatan Mata
15.
Laboratorium ( diupayakan tidak lagi sederhana )
16.
Pencatatan dan Pelaporan Sistem Informasi Kesehatan
17.
Kesehatan Usia Lanjut
18.
Pembinaan Pengobatan Tradisional
Pelaksanaan kegiatan pokok Puskesmas diarahkan
kepada keluarga sebagai satuan masyarakat terkecil. Karenanya, kegiatan pokok
Puskesmas ditujukan untuk kepentingan kesehatan keluarga sebagai bagian dari
masyarakat di wilayah kerjanya. Setiap kegiatan pokok Puskesmas dilaksanakan
dengan pendekatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa ( PKMD ). Disamping
penyelenggaraan usaha-usaha kegiatan pokok Puskesmas seperti tersebut di atas,
Puskesmas sewaktu-waktu dapat diminta untuk melaksanakan program kesehatan
tertentu oleh Pemerintah Pusat ( contoh: Pekan Imunisasi Nasional ). Dalam hal
demikian, baik petunjuk pelaksanaan maupun perbekalan akan diberikan oleh
Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah. Keadaan darurat mengenai kesehatan
dapat terjadi, misalnya karena timbulnya wabah penyakit menular atau bencana
alam. Untuk mengatasi kejadian darurat seperti di atas bisa mengurangi atau
menunda kegiatan lain.
Azas
Penyelenggaraan Puskesmas Menurut Kepmenkes No 128 Tahun 2004
1.
Azas
pertanggungjawaban wilayah
a.
Puskesmas
bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang bertempat
tinggal di wilayah kerjanya.
b.
Dilakukan
kegiatan dalam gedung dan luar gedung
c. Ditunjang dengan puskesmas pembantu, Bidan di
desa, puskesmas keliling
2.
Azas
pemberdayaan masyarakat
a. Puskesmas harusmemberdayakan perorangan,
keluarga dan masyarakat agar berperan aktif dalam menyelenggarakan setiap upaya
Puskesmas
b. Potensi masyarakat perlu dihimpun
3.
Azas
keterpaduan
Setiap
upaya diselenggarakan secara terpadu
Keterpaduan lintas program
·
UKS : keterpaduan Promkes, Pengobatan, Kesehatan
Gigi, Kespro, Remaja, Kesehatan Jiwa
Keterpaduan lintassektoral
·
Upaya Perbaikan Gizi : keterpaduan sektor kesehatan
dengan camat, lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama, dunia usaha, koperasi,
PKK
·
Upaya Promosi Kesehatan : keterpaduan sektor
kesehatan dengan camat, lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama
4.
Azas
rujukan
Ø Rujukan medis/upaya kesehatan perorangan
· rujukan kasus
· bahan pemeriksaan
· ilmu pengetahuan
Ø Rujukan upaya kesehatan masyarakat
· rujukan sarana dan logistik
· rujukan tenaga
·
rujukan
operasional
Masalah-Masalah
yang Muncul di Lingkup Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan
ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyarakat karena cukup efektif membantu
masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama dengan standar pelayanan
kesehatan. Pelayanan kesehatan yang dikenal murah seharusnya menjadikan
Puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan utama bagi masyarakat, namun pada
kenyataannya banyak masyarakat yang lebih memilih pelayanan kesehatan pada
dokter praktek swasta atau petugas kesehatan praktek lainnya. Kondisi ini
didasari oleh persepsi awal yang negatif dari masyarakat terhadap pelayanan
Puskesmas, misalnya anggapan bahwa mutu pelayanan yang terkesan seadanya,
artinya Puskesmas tidak cukup memadai dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat, baik dilihat dari sarana dan prasarananya maupun dari tenaga medis
atau anggaran yang digunakan untuk menunjang kegiatannya sehari-hari. Sehingga
banyak sekali pelayanan yang diberikan kepada masyarakat itu tidak sesuai
dengan Standar Operating Procedure (SOP) yang telah ditetapkan. Misalnya: sikap
tidak disiplin petugas medis pada unit pelayanan puskesmas Peudada, yang
dikeluhkan masyarakat. Mereka selalu diperlakukan kurang baik oleh para petugas
medis yang dinilai cenderung arogan, berdalih terbatasnya persediaan
obat-obatan pada puskesmas telah menyebabkan banyak diantara pasien terpaksa membeli
obat pada apotik. Di samping itu, ketika membawa salah seorang warga yang jatuh
sakit saat mengikuti kegiatan perkampungan pemuda, kemudian warga yang lain
mengantarnya ke Puskesmas Peudada, pasien itu tidak dilayani dengan baik bahkan
mereka (perawat-red) mengaku telah kehabisan stok obat. Hal tersebut, tentu
telah merusak citra Puskesmas sebagai pemberi layanan kesehatan kepada
masyarakat yang dianggap dapat membantu dalam memberikan pertolongan pertama
yang sesuai dengan standar pelayanan kesehatan. Selain itu, tidak berjalannya
tugas edukatif di Puskesmas yang berkaitan dengan penyuluhan kesehatan yang
sekaligus berkaitan dengan tugas promotif. Menurut masyarakat, petugas
puskesmas sangat jarang berkunjung, kalaupun ada, yaitu ketika keluarga mempunyai
masalah kesehatan seperti anggota keluarga mengalami gizi buruk atau penderita
TB. Berarti tugas ini lebih untuk memberikan laporan dan kuratif dibanding
upaya promotif. Kemudian, perawat puskesmas biasanya aktif dalam BP, puskesmas
keliling, dan puskesmas pembantu. Jelas dalam tugas tersebut, perawat melakukan
pemeriksaan pasien, mendiagnosa pasien, melakukan pengobatan pada pasien dengan
membuat resep pada pasien. Namun, ketika melakukan tugas tersebut tidak ada supervisi dari siapapun, khususnya penanggung
jawab dalam tindakan pengobatan/medis. Tenaga perawat seolah-olah tidak
menghargai kegiatan-kegitan formalnya sendiri, karena mungkin tugas kuratif
lebih penting. Hal ini berdampak kepada status kesehatan masyarakat, status
gizi, penyakit infeksi menular dan mungkin upaya kesehatan ibu dan anak tidak
mendapatkan porsi yang sesuai sehingga berdampak pada kondisi kesehatan
masyarakat. Kalaulah memang tugas tenaga kesehatan di Puskesmas lebih banyak ke
arah kuratif, maka Puskesmas menjadi unit dari pelayanan Rumah sakit karena
Rumah Sakit akan memiliki banyak sumber daya manusia dan fasilitas medik. Tapi
kalaulah Puskesmas ini menjadi lebih dominan dalam tugas promotif dan preventif
maka tugas eksekutif bagi perawat haruslah digiatkan, dan puskesmas menjadi
bagian dari unit Dinas kesehatan, atau bagian tersendiri yang memiliki otonomi
yang kuat dalam mengatur program-programnya, sedangkan Dinas kesehatan hanya
sebagai regulator, pemberi dana dan pengadaan petugas, untuk pelayanan
kesehatan masyarakat diberikan kepada Puskesmas, atau pelayanan kesehatan dapat
ditenderkan kepada pihak swasta. Tidak hanya hal-hal yang telah diungkapkan di
atas, lebih dari itu, masih ada permasalahan yang muncul di lingkup puskesmas,
misalnya: Jam kerja Puskesmas yang sangat singkat hanya sampai jam 14.00 WIB,
kemampuan keuangan daerah yang terbatas, puskesmas yang kurang memiliki
otoritas untuk memanfaatkan peluang yang ada, puskesmas belum terbiasa
mengelola kegiatannya secara mandiri, serta kurangnya kesejahteraan karyawan
yang berpengaruh terhadap motivasi dalam melaksanakan tugas di puskesmas
Faktor-Faktor
Penghambat Pelayanan Puskesmas
Dalam realitanya pelayanan Puskesmas sekarang banyak
memiliki masalah-masalah. Adapun masalah-masalah yang telah diungkapkan di atas
itu diakibatkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: (Tjiptoherijanto dan Said
Zainal Abidin, 1993: 44-46)
Ø Faktor Internal
·
Pelaksanaan Manajemen
Pelaksanaan manajemen merupakan hal
penting yang menentukan dalam mencapai tujuan yang efisien dan efektif dari tujuan
Puskesmas. Dimana fungsi manajemen itu untuk planning, organaizing, leading,
dan controling. Pada kegiatan perencanaan setiap tahunnya sering kali tidak
berjalan sehingga kegiatan berjalan apa adanya sesuai kebiasaan yang dianggap
‘baik/sudah biasa’. Bahkan terasa sekali bahwa tidak pernah adanya upaya
pengembangan. Serta tidak pernah terpikir untuk mempersoalkan kendali mutu
pelayanan yang disebabkan kurangnya pengetahuan, peralatan, dan perhatian
tersita pada upaya pengobatan. Dapat dikatakan bahwa kepala Puskesmas lebih
sibuk pada masalah-masalah manajerial daripada kasus-kasus klinik. Dapat
dikatakan juga bahwa kurangnya pengetahuan para Kepala Puskesmas dan rendahnya
disiplin/etos kerja staff, menjadikan unsur manajemen ini tidak berjalan. Tentu
hal ini menghambat kinerja Puskesmas untuk melayani masyarakat dalam bidang
kesehatan.
·
Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan
suatu aspek terpenting dalam mencapai target dari program-program Puskesmas.
Tetapi apa yang terjadi pada Puskesmas di Indonesia terkesan tidak diperhatian
oleh pemerintah dengan alasan wilayah geografis yang sulit untuk dijangkau,
sehingga sarana dan prasarana yang ada di dalam Puskesmas sangat terbatas, baik
berupa alat medis maupun obat-obatan. Hal ini terjadi akibat dari sumber
keuangan yang dimiliki Puskesmas terbatas sehingga mutu pelayanan puskesmas pun
menjadi rendah karena tidak sesuai dengan standart kesehatan.
·
Tenaga medis
Jumlah tenaga medis yang sangat
sedikit mengakibatkan ketidakmampuannya melaksanakan program dari Dinas
Kesehatan. Misalanya program Posyandu yang tidak tepat sasaran. Jumlah tenaga
medis sedikit karena insentif dari pemerintah daerah. Faktor kesejahteraan
pegawai memang hal penting karena berkaitan dengan satu-satunya pendapatan
resmi mereka adalah gaji. Untuk mencapai penyelenggaraan pelayanan kesehatan di
Puskesmas di perlukan pimpinan yang mau memotivasi pegawainya dengan cara
memenuhi kebutuhan hidupnya.
·
Sumber keuangan Puskesmas
Sumber keuangan dari pemerintah
pusat maupun daerah yang didapat tidak sebanding dengan pengeluaran operasional
Puskesmas sehingga biaya pelayanan Puskesmas pun mahal padahal sarana yang
terdapat di sana tidak sebanding dengan apa yang harus dibayar sehingga hal ini
berdampak kepada masyarakat untuk beralih pergi ke Rumah Sakit saja yang
fasilitas lebih baik daripada Puskesmas. Adapun sumber-sumber keuangan
Puskesmas sebagai berikut:
ð Pemerintah
Sumber biaya
berasal dari Pemerintah Kabupaten yang dibedakan atas dana pembangunan dan dana
anggaran rutin. Dana ini diturunkan secara bertahap ke Puskesmas melalui Dinas
Kesehatan Kabupaten.
ð Retribusi
Retribusi
merupakan salah satu sumber pendapatan Puskesmas yang membiayai upaya kesehatan
perorangan yang pemanfaatanya dan besarnya ditentukan oleh Pemerintah Daerah.
ð PT. ASKES
Puskesmas
menerima dana dari PT. ASKES yang peruntukannya sebagai imbal jasa kepada
peserta ASKES yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS)
ð PT.
JAMSOSTEK
Puskesmas
menerima dana dari PT. JAMSOSTEK yang peruntukannya sebagai imbal jasa kepada
peserta JAMSOSTEK yaitu Pegawai / karyawan yang berada dibawah naungan Dinas
Tenaga Kerja.
ð BPP (Badan
Penyantun Puskesmas)
Dengan
memberdayakan potensi yang dimiliki masyarakat dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat.
Sumber-sumber
keuangan Puskesmas ini ternyata tidak dapat membiayai operasinal dari
program-program Puskesmas. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu,
birokratisasi penyaluran keuangan dari pemerintah sampai ke Puskesmasnya dan rendahnya responsibilitas
pengelola manajemen Puskesmas.
·
Psiko-sosial antara tenaga medis dengan
penduduk
Perbedaan psiko-sosial antara
tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas
dengan penduduk menimbulkan hambatan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan
Puskesma.Tenaga-tenaga yang diperbantukan di Puskesmas biasanya terdiri dari
orang-orang terpelajar dan bukan berasal dari daerah tersebut, sehingga
penduduk menganggapnya sebagai orang asing. Apalagi jika bahasa yang digunakan
adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk, maka akibatnya penduduk
segan untuk datang ke Puskesmas.
Ø Faktor Eksternal
·
Kondisi Geografis
Kondisi geografis Puskesmas umumnya
terletak pada daerah pelosok atau setingkat dengan kecamatan. Dimana kecamatan
tiap-tiap daerah memilki keadaan yang berbeda-beda dalam memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan puskesmas. Memang ada kecamatan-kecamatan yang hanya dengan
satu Puskesmas sudah dapat menjangkau seluruh penduduk. Tetapi ada juga
puskesmas yang hanya dapat dijangkau oleh penduduk yang bermukim di dekatnya
karena penduduk yang lain bertempat tinggal jauh dari Puskesmas. Hal ini
terkait pada dana yang tidak cukup untuk menggunakan alat-alat transportasi
atau memang tempat tinggalnya terpencil sehingga penduduknya lebih senang
tinggal di rumahnya daripada pergi ke Puskesmas.
·
Pemerintah daerah
Peran Pemerintah Daerah yang
terkesan gagap ini terlihat atas pemahaman pembangunan kesehatan yang
setengah-setengah dari pihak legslatif dan eksekutif yang tercermin dari
dijadikannya pelayanan kesehatan sebagai tulang punggung pendapatan daerah. Ini
berarti orang sakit dijadikan tualng punggung pendapatan daerah. Padahal upaya
menyehatkan masyarakat sejatinya termaktub dalam hakikat dan semangat UU. No.22
dan UU No. 25 tahun 1999 yang pada intinya adalah untuk meningkatkan kualitas
pelayanan publik dan mengembangkan demokrasi menuju peningkatan kesejahteraan
rakyat. Disamping itu alokasi anggaran kesehatan berbagai daerah mencerminkan
kurangnya perhatian terhadap investasi hak-hak dasar pembangunan manusia
diantaranya pelayanan kesehatan dasar.
·
Keadaan Ekonomi Penduduk
Keadaan ekonomi penduduk memberikan
andil dalam sulitnya mengupayakan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Jumlah
warga negara Indonesia mayoritas bermata pencarian petani dan nelayan yang mana
kondisi ekonominya kurang memadai. Walaupun ada ketentuan yang memperbolehkan
mereka yang tidak mampu untuk tidak usah membayar retribusi di Puskesmas, namun
kenyataannya orang-orang yang demikian justru enggan datang ke Puskesmas.
·
Kondisi Pendidikan Penduduk
Masalah pendidikan penduduk juga
berperan dalam menghambat pelayanan yang dihadapi oleh Puskesmas sebagai pusat
pelayanan kesehatan pada tingkat pertama, karena pada umumnya pendidikan
masyarakat desa masih rendah, maka pola pikir mereka sangat sederhana dan
kurang atau bahkan belum paham akan arti kesehatan. Mereka cenderung mengikuti
sifat-sifat tradisional yang sejak dulu dipegang oleh masyarakat dan
lingkungannya.
Hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang rendah yang mana sebagian
besar penduduk Indonesia lulusan SD terutama di daerah pelosok-pelosok
Indonesia, sehingga hal berdampak pada rendahnya partisipasi masyarakat dalam
mewujudkan masyarakat Indonesia sehat terutama pada lembaga Puskesmas yang
letaknya dekat dengan masyarakat tersebut.
Selain itu juga disebabkan Rumah Sakit lebih baik sarana dan
prasarananya, padahal Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang paling dasar
dalam lingkungan masyarakat setempat.
·
Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan yang berada di
Propinsi bekerja pada aspek melayani penyembuhan penyakit yang sudah diderita
oleh penduduk dibandingkan dengan melayani obat-obatan yang dapat digunakan
sebagai upaya pencegahan timbulnya suatu penyakit pada penduduk. Dengan kata
lain pelayanan kesehatan Puskesmas lebih banyak ditekankan pada tindakan
kuratif dibandingkan pada tindakan preventif apalagi promotif. Selain itu Dinas Kesehatan juga kurang melakukan
koordinasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan program-program Puskesmas yang
sudah ada sehingga tidak terwujudnya pelayanan kesehatan di tingkat basis.
Solusi
Mengatasi Masalah yang Muncul di Lingkup Puskesmas
Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan yang
terinstitusionalisasi mempunyai kewenangan yang besar dalam menciptakan inovasi
model pelayanan kesehatan di daerah. Untuk itu dibutuhkan komitmen dan kemauan
untuk meningkatkan/meratakan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan dengan
melakukan revitalisasi sistem kesehatan dasar dengan memperluas jaringan yang
efektif dan efisien di Puskesmas, peningkatan jumlah dan kualitas tenaga
kesehatan/revitalisasi kader PKK, pembentukan standar pelayanan kesehatan
minimum untuk kinerja sistem kesehatan yang komprehensif, serta memperbaiki
sistem informasi pada semua tingkatan pemerintah. Dari banyak kasus yang
terjadi dibanyak daerah, jelas bahwa Puskesmas memiliki pencitraan yang rendah
pada saat sekarang, terutama jika dilihat dari sarana, Puskesmas tidak memiliki
fasilitas yang lengkap walaupun sudah mendapat dana dari Dinas Kesehatan.
Analisis
Kasus Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas di Kecamatan Tamako
Seperti yang kita ketahui, bahwa pelayanan kesehatan
itu tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang tinggal di wilayah perkotaan
saja, tetapi juga diperuntukkan bagi masyarakat yang berada di wilayah
pedesaan. Namun, pada kenyataannya penyelenggaraan pelayanan kesehatan di
wilayah pedesaan cenderung lebih buruk dibandingan dengan di wilayah perkotaan.
Hal ini terjadi karena wilayah pedesaan kurang mendapat perhatian dari
pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sehingga penyelenggaraan pelayanan di
pedesaan terkesan buruk. Hal ini dapat dilihat dari penyelenggaraan pelayanan
puskesmas di Kecamatan Tamako yang jauh dari standar minimal pelayanan
kesehatan.
Puskesmas Tamako yang terletak di
Kecamatan Tamako berada kurang lebih 35 km dari ibukota Kabupaten Kepulauan
Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara adalah satu-satunya unit pelayanan kesehatan
strata pertama yang ada di wilayah ini. Dari segi sarana dan prasarana,
Puskesmas ini memiliki 1 rumah dokter dan 4 rumah para medis. Sebagai ujung
tombak pelayanan kesehatan, Puskesmas Tamako memiliki 3 Puskesmas pembantu, dua
diantaranya tidak berpenghuni, 2 pos obat desa, 11 Posyandu, dan didukung oleh
1 Puskesmas keliling. Namun, dengan jejaring seperti itu, pada kenyataannya
tetap saja banyak masyarakat yang tidak terjangkau oleh pelayanan kesehatan
yang diselenggarakan oleh Puskesmas Tamako ini. Ketidakterjangkauan ini umumnya
disebabkan karena jauhnya jarak Puskesmas dengan pemukiman warga, sulitnya
medan, dan tantangan cuaca. Selain itu, terbatasnya persediaan obat-obatan juga
nampak di Puskesmas Tamako ini. Sebagai contoh, pada tahun 2001, wilayah ini
membutuhkan 1092 jenis obat, sementara yang tersedia di Gudang Farmasi
Kabupaten (GFK) hanya 996 jenis obat, yang mana 560 (51%) diantaranya adalah obat
generik. Obat-obatan yang didrop dari GFK sebagian besar tidak sesuai dengan
permintaan. Ada obat yang diminta berkali-kali, tetapi tidak diberikan, dan
jikalau diberikan jumlahnya sangat sedikit. Sebaliknya, obat-obatan yang tidak
diminta justru diberikan terus-menerus. Lalu, jika dilihat dari segi Sumber
Daya Manusia (SDM), kuantitas dan kualitas tenaga medis juga menjadi masalah di
Puskesmas Tamako. Status Puskesmas Tamako yang merupakan Puskesmas rawat inap
tentu saja memerlukan tenaga medis yang cukup. Namun, pada kenyataannya hal
tersebut tidak dapat tercapai karena distribusi tenaga medis di Kabupaten
Sangihe yang masih kurang sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan
masyarakatnya. Rasio tenaga medis dengan jumlah penduduk yang belum berimbang
ini jelas mempengaruhi pelayanan kesehatan di Kecamatan Tamako ini. Kemudian
dari segi pembiayaan atau keuangan Puskesmas Tamako. Secara umum terlihat
adanya upaya peningkatan alokasi anggaran untuk pembangunan sektor kesehatan di
wilayah ini. Dari tahun ke tahun, terlihat adanya upaya untuk lebih menambah
kepedulian terhadap sektor kesehatan yang nampak pada distribusi penganggaran
dari APBN dan APBD yang semakin meningkat. Namun, lagi-lagi pada kenyataannya,
hal tersebut tidak seirama dengan upaya-upaya teknis yang ada di lapangan yang
ironisnya bersentuhan langsung dengan masyarakat. Realisasi proyek pembangunan
sarana kesehatan sebagian besar tidak sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan
yang berlaku. Misalnya, pernah terjadi saat ada rehabilitasi Puskesmas pembantu,
seng yang sudah tua dibalik, lalu dicat, kemudian dipasang lagi, dinding beton
yang digantikan dengan papan triplek yang dicat sehingga kelihatan dari jauh
seperti dinding beton yang asli. Begitu pula dengan proyek-proyek yang tidak
sesuai dengan kebutuhan tetapi dipaksakan diterima oleh Puskesmas. Contohnya,
antena SSB yang sudah ada, ditambah lagi dengan antena yang baru yang berarti
mencari lokasi pemasangan di halaman Puskesmas, sehingga halaman yang sudah
sempit menjadi semakin sempit. Sementara itu, anggaran rutin sebagian besar
terpakai untuk gaji pegawai, sehingga sangat sedikit yang dialokasikan untuk
dana rutin lain seperti pemeliharaan gedung. Oleh sebab itu, perbaikan
pelayanan kesehatan di Puskesmas Tamako ini tidak dapat dilaksanakan secara
efektif karena adanya penyelewengan dana yang dilakukan oleh pihak Puskesmas
sendiri, yang seharusnya dana yang diberikan pemerintah dianggarkan untuk
pemeliharaan gedung atau perbaikan sarana dan prasarana Puskesmas, justru
dipakai untuk gaji pegawai Puskesmas, sehingga penyelenggaraan pelayanan
kesehatan di Puskemas Tamako tidak dapat berkembang dengan baik.
A.
Model sistem
Pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas )
Komponen Input :
-
Man yaitu Petugas ( medis/paramedis dan
non medis/paramedis )
-
Money yaitu Sumber-sumber pembiayaan
kesehatan
-
Material
yaitu Bahan dan obat serta persediaan lainnya
-
Metode
yaitu Prosedur kerja /layanan kesehatan masyarakat
-
Markets
yaitu Masyarakat dan penderita di wilayah Puskesmas
-
Machine
yaitu Perlengkapan dan peralatan kesehatan
Komponen
Proses
-
Proses kinerja petugas medis/paramedis
dan non medis/paramedis
-
Proses penggunaan Bahan dan obat serta
penyediaan lainnya
-
Proses
penggunaan prosedur kerja/layanan kesehatan masyarakat
-
Proses
pelayanan penderita dan pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat
-
Proses
penggunaan perlengkapan dan peralatan kesehatan
-
Proses pendapatan dan pengeluaran penganggaran
Komponen
Output
-
Kualitas pelayanan Kesehatan Masyarakat
oleh PUSKESMAS ( Preventif, , Promosi, Kuratif, Rehabilitatif )
Gambar 1. Sistem-sub Sistem Pelayanan dan Suprasistem
Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)![]() |

B.
Elemen
Sistem, Linkungan, Struktur Intern dan Ekstern
Sebagai gambaran dari elemen sistem, lingkungan, struktur
intern dan ekstern, pada gambar 1, disajikan
sistem-sub sistem pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas),
dimana setiap sub sistem (
komponen-komponen dalam input ) saling mempengaruhi/berkaitan, dan dari
subsistem tersebut akan bekerja/berusaha (komponen proses) mencapai suatu
tujuan/menghasilkan apa yang disebutkan
pada komponen output pada suatu
lingkungan ( suprasistem ).
ANALISIS SISTEM
DARI PUSAT PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT
(PUSKESMAS)
A.
PEDOMAN
ANALISA
Dari uraian model, elemen, lingkungan, struktur intern
dan ekstern dari sistem Pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat diatas.
Selanjutnya diuraikan pedoman analisanya, disini akan digunakan analisa Output, Proses dan Input. dijabarkan sebagai
berikut :
Komponen Output
-
Kualitas pelayanan Kesehatan Masyarakat
oleh PUSKESMAS ( Preventif, , Promosi, Kuratif, Rehabilitatif ) yang optimal.
o
Komponen Ouput ini diuraikan kegiatan
bagian-bagian dan interaksinya dari pencapaian mutu pelayanan kesehatan masyarakat yang telah
dilaksanakan oleh Puskesmas baik preventif, promosi, kuratif maupun
rehabilitatif yang dinyatakan dalam satuan jumlah persatuan waktu atau
cakupan/hasil kegiatan, kunjungan frekwensi kontak dan lain-lain.
o
Optimal disini menunjukkan pelayanan bagian-bagian yang
berkisar antara 80-100% ( sebagai contoh ) dari semua komponen proses pelayanan
kesehatan masyarakat yang dilakukan oleh Puskesmas (cakupan dan target ). Dibawah 80 %
kualitas pelayanan bagian-bagian pelayanan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) dikatakan
tidak atau kurang optimal
Komponen
Proses
-
Proses kinerja petugas medis/paramedis
dan non medis/paramedis yang baik
-
Proses penggunaan Bahan dan obat serta
penyediaan lainnya yang tepat
-
Proses
penggunaan prosedur kerja/layanan kesehatan masyarakat yang sesuai
-
Proses
pelayanan penderita dan pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat tepat
-
Proses
penggunaan perlengkapan dan peralatan kesehatan yang baik
-
Proses penggunaan biaya yang terpenuhi
o
Komponen proses ini diuraikan proses
pelayanan bagian-bagian pencapaian mutu
pelayanan Puskesmast yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang dibuat
o
Disini diurai segala kegiatan bagian
yang terkait dengan berfungsinya atau tidaknya
( bagaimana kejadian dan bagaimana seharusnya) fungsi manajemen antara
lain, perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasin,
koordinasi, monitoring evaluasi, penggunaan peralatan/bahan, bimbingan tehnis
dan lain-lain.
o
Baik, tepat, sesuai, terpenuhi
disini menunjukkan kegiatan yang
seharusnya dilaksanakan, Sedangkan kurang baik, tidak tepat, tidak terpenuhi
menunjukkan keadaan sebenarnya atau tidak berfunginya manajemen dari proses tersebut diatas.
Komponen Input :
Komponen Input ini diuraikan sumber daya yang dimiliki
oleh Puskesmas (apakah ada, kelebihan atau kekurangan) meliputi :
-
Man yaitu Jumlah Petugas ( medis/paramedis
dan non medis/paramedis ) yang lengkap
-
Money yaitu Sumber-sumber pembiayaan
kesehatan yang tersedia
-
Material yaitu Bahan dan obat serta
persediaan lainnya yang tersedia
-
Metode
yaitu Prosedur kerja /layanan kesehatan masyarakat yang tersedia
-
Markets yaitu Masyarakat wilayah
Puskesmas dan Penderita yang terdata
-
Machine yaitu Perlengkapan dan peralatan
kesehatan yang tersedia
B. PENILAIAN MASALAH
Setelah disusun pedoman
analisanya, selanjutnya dibuat penilaian terhadap masalah yang kemungkinan
timbul pada pusat pelayanan
kesehatan masyarakat (Puskesmas).
Disini dapat dibuat dengan model kualitatif sebagai contoh.
Pertama dimulai dari uraian masalah
pada komponen output (tetap berpedoman
pada pedoman analisa diatas). Contoh
masalah sebagai berikut :
Masalah
Output :
Kualitas
pelayanan Kesehatan Masyarakat oleh PUSKESMAS ( Preventif, , Promosi, Kuratif,
Rehabilitatif ) KURANG OPTIMAL
Penyebabnya dapat dilihat dari
komponen PROSES dari pedoman analisa sistemnya. Disini bisa satu atau
lebih proses yang merupakan penyebab masalah, sementara konponen proses
yang lainnya bukan merupakan penyebab masalah (Normalnya/seharusnya adalah
semua komponen proses berjalan dengan baik), tetapi komponen proses yang telah
baik, bisa menjadi masalah bila komponen yang bermasalah tidak segera diatasi (
lihat gambar 2 )
Penyebab masalah juga bisa langsung pada komponen Input ( Boundary system)
dimana komponen prosesnya tidak dipersoalkan apabila inputnya telah
tersedia. Atau bisa juga disebabkan
karena adanya relasi-relasi dengan lingkungan ( sistem terbuka ) atau justru sebaliknya ( sistem tertutup ).
Sebagai contoh penyebab masalah dari dua proses yang akan mempengaruhi
bagian dalam proses lain dan akan berpengaruh dalam pencapaian output diatas
dapat diuraikan sebagai berikut:
Penyebab masalahnya
( Masalah Proses ) adalah
1.
kinerja
petugas medis/paramedis dan non medis/paramedis
yang kurang profesional misalnya
datang terlambat, cepat pulang, tidak menempati janji dengan masyarakat, dll
2.
pelayanan
penderita dan pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat tidak tepat
misalnya keluarga ( masyarakat )
membutuhkan pengetahuan tentang cara membangun / menggunakan WC yang benar dan
sehat, puskesmas memberikan closet, karena ketidak tahuan cara membangun dan
menggunakan WC, closet hanya disimpan dibawah pohon.
Sementara
proses yang lainnya berjalan sebagaimana mestinya ( bukan penyebab masalah )
yaitu :
3. Proses
penggunaan Bahan dan obat serta penyediaan lainnya yang tepat
4.
Proses
penggunaan prosedur kerja/layanan kesehatan masyarakat yang sesuai
5.
Proses
penggunaan perlengkapan dan peralatan kesehatan yang baik
6. Proses
penggunaan biaya yang terpenuhi
Namun perlu diingat proses yang telah baik ini akan menjadi masalah apabila
dua proses masalah diatas tidak segera diatasi. Demikian juga dengan masalah yang ditemukan pada input sebagaimana
yang akan dijelaskan dibawah ini.
Setelah penyebab masalah dari proses telah ditemukan, selanjut perlu
diketahui lebih lanjut lagi penyebab
dari tidak berfungsinya proses tersebut.
Dari contoh diatas sebagaimana pada proses penyebabnya, pada input bisa juga
satu atau lebih merupakan penyebab
masalah proses tersebut.
Sebagai
contoh dapat diuraikan sebagai berikut:
Penyebab masalah ( Masalah Input ) adalah:
- kinerja petugas medis/paramedis dan non
medis/paramedis yang kurang profesional misalnya datang
terlambat, cepat pulang, tidak menempati janji dengan masyarakat, dll
Penyebabnya adalah
1.
Man
yaitu Jumlah Petugas ( medis/paramedis dan non medis/paramedis ) yang
berlebihan
2. Money
yaitu Sumber-sumber pembiayaan kesehatan yang kurang tersedia.
Sementara input yang
lainnya berjalan sebagaimana mestinya ( bukan penyebab masalah proses) yaitu :
3. Material
yaitu Bahan dan obat serta persediaan lainnya yang tersedia
4.
Metode
yaitu Prosedur kerja /layanan kesehatan masyarakat yang tersedia
5. Markets
yaitu Masyarakat wilayah Puskesmas dan
Penderita yang terdata
6. Machine
yaitu Perlengkapan dan peralatan kesehatan
yang tersedia
|
||||||||
|
||||||||
|
||||||||





Gambar 2. Masalah, penyebab
masalah dan hubungan dengan komponen-komponen lainnya dalam sistem
pelayanan Puskesmas.
- pelayanan penderita dan pemenuhan kebutuhan
kesehatan masyarakat tidak tepat misalnya
keluarga ( masyarakat ) membutuhkan pengetahuan tentang cara
membangun / menggunakan WC yang benar dan sehat, puskesmas memberikan
closet, karena ketidak tahuan cara membangun dan menggunakan WC, closet
hanya disimpan dibawah pohon. Penyebabnya adalah
1.
Metode
yaitu Prosedur kerja /layanan kesehatan masyarakat yang kurang tersedia
2.
Markets
yaitu Masyarakat wilayah Puskesmas dan
Penderita tidak terdata
3.
Machine
yaitu Perlengkapan dan peralatan kesehatan
kurang tersedia
Sementara input yang lainnya berjalan sebagaimana
mestinya ( bukan penyebab masalah proses) yaitu :
4. Man
yaitu Jumlah Petugas ( medis/paramedis dan non medis/paramedis ) yang lengkap
5. Money
yaitu Sumber-sumber pembiayaan kesehatan kurang tersedia
6. Material
yaitu Bahan dan obat serta persediaan lainnya yang tersedia
C. PENENTUAN TUJUAN
Setelah penentuan
penilaian masalah telah selesai, selanjutnya dilakukan
penetapan tujuan yaitu dengan mengubah
pernyataan negatif dari masalah (baik itu pada Output, Proses, maupun
Input) menjadi pernyataan positif (
Tujuan )
Tujuan Output :
Meningkatkan
Kualitas pelayanan Kesehatan Masyarakat oleh PUSKESMAS (Preventif, , Promosi,
Kuratif, Rehabilitatif ) dari KURANG
OPTIMAL menjadi OPTIMAl
Tujuan Proses I :
Meningkatkan kinerja petugas medis/paramedis dan non
medis/paramedis yang kurang profesional menjadi profesional misalnya datang terlambat menjadi datang
tepat waktu, cepat pulang menjadi pulang tepat waktu, tidak menempati janji
dengan masyarakat menjadi menempati janji, dll
- Tujuan Input
1.1 : Man
yaitu Jumlah Petugas ( medis/paramedis dan non medis/paramedis ) yang
berlebihan dimutasi pada program yang kekurangan tenaga
- Tujuan Input
1.2 : Money
yaitu Sumber-sumber pembiayaan kesehatan yang kurang tersedia dengan
mencari dan mendapat sumber pembiayaan lain misalnya swadaya masyarakat.
Konsekwensi dari dari tujuan
proses dan input ini adalah penyedian sarana
dan prasarana termasuk penggunaan biaya operasional pada petugas yang yang ditempatkan pada posisi baru. Namun
konsekwensi ini tidaklah lebih penting dari ketidak percayaan masyarakat kepada
petugas/Puskesmas, disamping itu juga pengaruh terhadap komponen proses lainnya
terhadap pencapaian mutu kualitas pelayanan
kesehatan masyarakat yang
optimal.
Tujuan Proses II:
Meningkatkan pelayanan penderita dan pemenuhan kebutuhan
kesehatan masyarakat tidak tepat menjadi tepat
misalnya diskusi/penyuluhan pada
keluarga ( masyarakat ) tentang pengetahuan tentang cara membangun /
menggunakan WC yang benar dan sehat.
a.
Tujuan
Input 2.1 : Metode yaitu Prosedur kerja /layanan kesehatan masyarakat
yang kurang tersedia menjadi tersedia
b.
Tujuan
Input 2.2. : Markets yaitu
Masyarakat wilayah Puskesmas dan
Penderita tidak terdata menjadi terdata
c.
Tujuan
Input 2.3. : Machine
yaitu Perlengkapan dan peralatan kesehatan
kurang tersedia menjadi tersedia.
Konsekwensi dari dari tujuan
proses dan input ini adalah penggunaan waktu
diluar jam kerja karena adanya kebutuhan/keinginan masyarakat dimana mereka bisa bertemu dengan petugas
kesehatan hanya pada waktu selesai kerja
yaitu disore dan malam dll.
D. PENENTUAN ALTERNATIF
Penentuan
alternatif dilakukan setelah penentuan tujuan
dilakukan, dimana pemilihan alternatif tujuan berdasarkan tingkat efektifitas (
waktu ) dan efiseinsi ( biaya ) yang digunakan.
-
Alternatif yang terpilih biasanya adalah
tujuan yang tingkat afektifitasnya tinggi namun biaya yang digunakan
diperkirakan lebih rendah
-
Dapat digunakan metode Cost Efective
Analysis dengan rumus : Cost dibagi dengan Efective atau Besarnya biaya Perorangan.
-
Perlu
juga diperhatikan pengaruhnya dengan komponen-komponen (subsistem) lainnya
dalam pencapaian tujuan termasuk faktor-faktor lingkungan (Suprasistemnya )
Dari ketentuan ini maka alternatif dari tujuan diatas dapat diambil Tujuan Proses 1, dan Tujuan input 1.1 dan
Tujuan Input 1,2 Serta Tujuan Input 2.2 dari
Tujuan Proses 2. yaitu sebagai berikut :
Tujuan Proses I :
Meningkatkan kinerja petugas medis/paramedis dan non
medis/paramedis yang kurang profesional menjadi profesional misalnya datang terlambat menjadi datang
tepat waktu, cepat pulang menjadi pulang tepat waktu, tidak menempati janji
dengan masyarakat menjadi menempati janji, dll
a.
Tujuan
Input 1.1 : Man yaitu
Jumlah Petugas ( medis/paramedis dan non medis/paramedis ) yang berlebihan
dimutasi program kekurangan tenaga
b.
Tujuan
Input 1.2 : Money yaitu
Sumber-sumber pembiayaan kesehatan yang tidak tersedia dengan mencari dan
mendapat sumber pembiayaan lain misalnya swadaya masyarakat.
c.
Tujuan
Input 1.3. : Markets yaitu
Masyarakat wilayah Puskesmas dan
Penderita tidak terdata menjadi terdata
E. MENETAPKAN KEGIATAN.
Dari alternatif tujuan
yang terpilih, kemudian ditentukan jenis kegiatan yang sesuai, agar tujuan yang
telah ditetapkan dapat tercapai. Disini juga perlu diperhatikan dari beberapa alternatif kegiatan yang ada,
dipilih kegiatan yang terbaik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dan
selanjutnya dibuat rincian kegiatan yang
dilakukan termasuk uraian penggunaan biaya kegiatan.
Penentuan Kegiatan dapat dijabarkan dari contoh diatas
yaitu sebagai berikut :
Tujuan :
Meningkatkan Kualitas pelayanan Kesehatan Masyarakat oleh
PUSKESMAS (Preventif, , Promosi, Kuratif, Rehabilitatif ) dari KURANG OPTIMAL menjadi Optimal
Kegiatannya :
1. Pertemuan Rutin peningkatan kinerja petugas.
2.
Penggalangan
sumber-sumber pembiayaan yang bersumber
dari masyarakat. Misalnya penggunaan Dana BAZ untuk pelayanan kesehatan keluarga miskin.
3. Pendataan penderita dan Masyarakat. Dalam program
kesehatan.
Agar lebih jelas dalam pencapaian tujuan ketiga kegiatan
ini, dijabarkan lagi dalam bentuk Input, Proses dan Output dan Rencana Tindak Tanjut ( Feed Back ) termasuk Penanggung jawab, Pelaksana, waktu
dan lokasi pelaksanaan serta rincian
biaya kegiatan.
Contoh
Kegiatan : Pertemuan rutin peningkatan kinerja petugas
puskesmas
Input
Peserta : 20 Petugas ( staf ) Puskesmas
Fasilitator : Kepala Puskesmas
Nasumber : Ka. Dinas Kesehatan
Panitia : 2 orang dari staf Puskesmas
Agenda : Petunjuk pertemuan Staf Puskesmas.
Proses
-
diskusi
dan pembahasan hasil dan kinerja masing-masing
petugas ( staf ) Puskesmas
-
Pemberian
sangsi dan hadiah ( reward ) pada
petugas berhadil dan tidak berhasil.
Output
20 petugas puskesmas berpartisipasi dalam pertemuan rutin
peningkatan kinerja petugas Puskesmas.
Penanggung Jawab : Ka. Puskesmas
Pelaksana : Ka TU Puskesmas
Lokasi : Ruang pertemuan Puskesmas
Jadwal : Dilaksanakan tiap tiga bulan sekali
setiap hari
senin minggu pertama bulan berjalan
Rencana
Tindak lanjut
Memantau sampai sejaumana kegiatan telah mencapai tujuan dari sistem pelayanan kesehatan
masyarakat ( Puskesmas ) yang telah
dibuat
Rincian penggunaan biaya per satu kali pertamuan
ATK :
20 orang x Rp. 5.000.- =
Rp. 100.000.-
Konsumsi :
20 orang x Rp. 5.000.- =
Rp. 100.000.-
Hadiah : 2 Paket x Rp. 50.000.- = Rp. 100.000.-
Transport Narasumber : 1 orang
x Rp. 25.000.- = Rp. 25.000.-
Total =
Rp. 325.000.-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar